May 28, 2017

Preview Film: Resident Evil: Vendetta (2017)


Petualangan Alice dalam Resident Evil memang sudah tamat dengan dirilisnya film keenam yang bertajuk The Final Chapter pada bulan Januari yang lalu. Namun, franchise yang diadaptasi dari video game tersebut masih akan terus berlanjut.

Beberapa hari yang lalu, tersiar kabar bahwa Resident Evil bakal di-reboot, alias dimulai kembali kisahnya. Tentu saja, bakalan tanpa si sexy Milla Jovovich yang peran ikonisnya sebagai Alice telah berakhir. Yang bakal menjadi produser versi reboot ini pun, konon, bukan nama sembarangan. Yakni, si master film horror asal Malaysia, James Wan.

Sekali lagi, itu semua baru rumor. Belum ada konfirmasi resmi tentang proyek reboot tersebut. Tetapi, sembari menunggu Resident Evil versi anyar yang entah kapan bakal dirilis, para fans bisa terlebih dulu menikmati versi animasinya yang mulai tayang di Cinemaxx Theater dan CGV Cinemas seluruh Indonesia pada hari Sabtu (27/5) ini.

Film berjudul Resident Evil: Vendetta tersebut juga bakal dirilis di Jepang dengan tajuk Biohazard: Vendetta. Bagi yang belum tau, sebelumnya sudah pernah beredar dua film animasi CG (computer graphic) tentang zombie-zombie-an ini. Yaitu, Resident Evil: Degeneration (2008) dan Resident Evil: Damnation (2012).

Resident Evil: Vendetta sendiri bakal mengambil setting di antara kejadian di video game Resident Evil 6 dan Resident Evil 7: Biohazard. Film animasi rilisan Sony Pictures Entertainment Japan ini memang berada satu universe dengan video game yang dirilis oleh Capcom. Berbeda dengan versi live-action-nya yang dibintangi Milla Jovovich, yang kisahnya berdiri sendiri, tidak terkait dengan video game-nya.

Karakter utama di film versi animasi juga sama dengan versi video game, yaitu Leon S. Kennedy (suaranya diisi oleh Matthew Mercer). Namun, di Resident Evil: Vendetta ini, sosok agen pemerintah Amerika Serikat itu bakal berbagi peran dengan Chris Redfield (Kevin Dorman), anggota BSAA (Bioterrorism Security Assessment Alliance). Selain itu, juga ada professor cantik, Rebecca Chambers (Erin Cahill).

Bagi para gamer, Leon dan Chris merupakan dua karakter ikonik yang sangat populer. Redfield menjadi tokoh utama di Resident Evil (1996) dan Resident Evil 5 (2009), serta Kennedy di Resident Evil 2 (1998) dan Resident Evil 4 (2005). Sementara itu, Rebecca adalah jagoan di video game prekuel, Resident Evil Zero (2002).

Di versi film animasi Resident Evil: Vendetta, ketiga karakter utama tadi akhirnya dipertemukan kembali. Leon, Chris dan Rebecca bakal bahu-membahu untuk menghentikan tokoh antagonis, Glenn Arias, yang memiliki misi balas dendam untuk menyebarkan virus mematikan baru, The Trigger Virus, di New York City.

Dari trailer yang dirilis beberapa waktu lalu, tampak Resident Evil: Vendetta tetap mengumbar aksi mengerikan para zombie. Namun, bila dibandingkan dengan dua film animasi pendahulunya, produk Marza Animation Planet ini terlihat lebih brutal dan menegangkan. Para gamer, yang kecewa dengan versi live-action produksi Hollywood, sepertinya bakal dipuaskan kali ini.

Resident Evil: Vendetta memang bukan film blockbuster. Namun, banyak pihak, terutama para pemain video game, menilai versi animasi ini bakal lebih baik dari versi live-action yang dibintangi Milla Jovovich, yang telah dirilis sebanyak enam judul tersebut.

Kisah film besutan Takanori Tsujimoto ini memang mengikuti cerita asli video game-nya, dengan desain karakter yang juga sama. Oleh karena itu, tak heran, para gamer lebih menyukai versi animasinya daripada versi Hollywood-nya.

Hingga kini, respon dari para kritikus masih belum diketahui karena Resident Evil: Vendetta baru dirilis hari Sabtu (27/5) ini di Jepang dan Indonesia. Sementara itu, di Amerika Serikat baru akan tayang pada 19 Juni 2017 nanti.

***

Resident Evil: Vendetta

Sutradara: Takanori Tsujimoto
Produser: Hiroyuki Kobayashi
Penulis Skenario: Makoto Fukami
Berdasarkan: Resident Evil by Capcom
Pemain: Matthew Mercer, Kevin Dorman, Erin Cahill
Musik: Kenji Kawai
Produksi: Capcom, Marza Animation Planet
Distributor: Sony Pictures Entertainment Japan, Kadokawa, CBI Pictures (Indonesia)
Durasi: 115 menit
Rilis: 27 Mei 2017 (Jepang & Indonesia), 19 Juni 2017 (Amerika Serikat)

Rating (hingga 27 Mei 2017)
IMDb: -
Rotten Tomatoes: -

Preview Film: Stratton (2017)


Nama Duncan Falconer mungkin belum setenar almarhum Ian Fleming, yang sukses menelurkan serial novel James Bond. Meski demikian, track record mantan anggota Special Boat Service (SBS) tersebut tak bisa diremehkan dalam dunia tulis-menulis.

Seperti halnya Fleming, Falconer juga mampu menghasilkan serial novel ala James Bond. Hingga delapan seri. Tentang anggota pasukan elite Inggris, SBS, yang bernama John Stratton. Film adaptasinya saat ini sedang tayang di bioskop-bioskop Cinema 21 Indonesia.

Karakter John Stratton sendiri memang didasarkan pada Duncan Falconer. Anggota SBS yang bekerja untuk Detasemen Intelijen di Irlandia Utara. Menjalankan misi berbahaya dan mempertaruhkan nyawa sudah menjadi makanan sehari-sehari. Dalam film berdurasi 95 menit ini, Stratton dan rekan-rekan setimnya harus menghadapi ancaman teroris yang menyerang Kota London dengan senjata biologis.

Awalnya, yang digadang-gadang sebagai pemeran John Stratton adalah Henry Cavill. Namun, karena sibuk dengan proyek Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), aktor asal Inggris itu akhirnya mengundurkan diri. Yang ditunjuk sebagai penggantinya adalah Dominic Cooper.

Seperti halnya Cavill, Cooper juga berkebangsaan Inggris. Meski belum pernah menjadi bintang utama di film-film blockbuster, sepak terjangnya di Hollywood tak perlu diragukan. Aktor berusia 39 tahun itu sudah pernah terlibat di Captain America: The First Avenger (2011), Need for Speed (2014), Dracula Untold (2014), Warcraft (2016), dll.

Di kursi sutradara, pihak produser menunjuk Simon West, yang juga berasal dari Inggris, untuk menggarap Stratton. Selama ini, West sudah berpengalaman menghasilkan berbagai macam film action. Mulai dari Con Air (1997)-nya Nicolas Cage hingga The Mechanic (2011)-nya Jason Statham. Selain itu, dia juga pernah membesut Lara Croft: Tomb Raider (2001), Stolen (2012), The Expendables 2 (2012) dan Wild Card (2015).

Nama besar West dan Cooper seharusnya membuat Stratton menjadi film action thriller yang seru. Sayangnya, setelah tayang midnight pada weekend yang lalu, beberapa media di Indonesia memberikan review negatif.

Alur cerita film yang juga dibintangi oleh Tyler Hoechlin, pemeran Superman dalam serial Supergirl, ini dianggap terlalu datar. Simon West dinilai tidak menampilkan hal baru yang bisa membuat penonton terkesan. Akting para pemainnya juga biasa-biasa saja. Dominic Cooper tidak banyak membantu.

Sementara itu, respon dari para kritikus internasional masih belum diketahui karena film ini belum dirilis. Stratton memang baru akan tayang di Inggris pada 28 Juli 2017 nanti.

***

Stratton

Sutradara: Simon West
Produser: Matthew Jenkins
Penulis Skenario: Duncan Falconer, Warren Davis
Berdasarkan: Stratton series by Duncan Falconer
Pemain: Dominic Cooper, Gemma Chan, Austin Stowell, Tyler Hoechlin, Tom Felton
Musik: Nathaniel Méchaly
Sinematografi: Felix Wiedemann
Penyunting: Andrew MacRitchie
Produksi: GFM Films
Durasi: 95 menit
Rilis: 23 Mei 2017 (Indonesia), 28 Juli 2017 (Inggris)

Rating (hingga 24 Mei 2017)
IMDb: 4,9/10

Preview Film: Pirates of the Caribbean: Salazar's Revenge (Dead Men Tell No Tales) (2017)


Setelah enam tahun lamanya, penantian para fans Pirates of the Caribbean (PotC) akhirnya tuntas. Film terbaru, alias yang kelima, dari franchise rilisan Disney itu mulai tayang di bioskop-bioskop Indonesia pada hari Rabu (24/5) ini.

Dengan mengusung subjudul Dead Men Tell No Tales (khusus untuk kawasan Eropa dan Asia bertajuk Salazar's Revenge), PotC tetap mengisahkan petualangan si bajak laut nyentrik, Captain Jack Sparrow. Karakter yang diperankan oleh Johnny Depp itu memang sangat ikonik dan memiliki banyak penggemar sejak film pertamanya dirilis pada tahun 2003 silam.

Meski masih mengandalkan sosok Jack Sparrow sebagai jualan utamanya, PotC 5 ini kabarnya bakal berbeda dengan seri terakhirnya, PotC: On Stranger Tides (2011). Dilihat dari trailer-nya, sepertinya memang begitu banyak yang berubah dari segi cerita bila dibandingkan dengan prekuelnya. Selain itu, ada bintang-bintang lama yang muncul kembali.

Saat diwawancarai setelah world premiere di Shanghai beberapa waktu yang lalu (12/5), duet sutradara Joachim Ronning dan Espen Sandberg mengungkap bahwa mereka memang membuat cerita yang sama sekali baru untuk PotC 5 ini. Bukan lanjutan dari film keempat, On Stranger Tides.

Meski demikian, duo sutradara yang sukses menghasilkan film Kon Tiki (2012) itu meyakinkan bahwa Salazar's Revenge bakal lebih mudah disukai oleh para penonton dibandingkan film-film PotC sebelumnya. Alasannya sederhana. Mereka membuat seri kelima ini berdasarkan formula-formula sukses yang ada di film pertama, The Curse of the Black Pearl (2003).

Ronning tahu, sebagian besar fans PotC memang paling menyukai film perdana yang dirilis pada tahun 2003 tersebut. Adegan action-nya spektakuler. Petualangannya keren. Unsur komedinya sangat kental. Dan ada bumbu horror-nya.

Selain itu, PotC: The Curse of the Black Pearl juga menyajikan sisi emosional yang kuat. Kisah asmara antara tokoh Will Turner (Orlando Bloom) dan Elizabeth Swann (Keira Knightley) sukses menyentuh hati dan bikin baper para penonton.

Duet Ronning-Sandberg mengakui, mereka memang sangat menyukai film PotC yang pertama. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk membuat Dead Men Tell No Tales dengan mengandalkan elemen-elemen yang ada di The Curse of the Black Pearl, yaitu: action, love story, horror, dan humor. Semua dipadukan menjadi satu.

Jadi, apakah PotC 5 ini bakal mengulang plot cerita film yang pertama? Ronning menegaskan: Tidak. Mereka hanya menggunakan formulanya saja. Kisahnya sama sekali berbeda. Meski ada beberapa karakter utama yang muncul kembali, seperti Will Turner dan Elizabeth Swann.

Sandberg menyatakan, inti dari PotC 5 adalah kisah petualangan Henry Turner (Brenton Thwaites). Dilihat dari nama belakangnya, fans PotC sudah bisa menebak bahwa Henry adalah anak dari Will Turner.

Menurut Sandberg, di PotC 5 ini, porsi Will yang kembali diperankan oleh Orlando Bloom itu memang tidak banyak. Namun, dia berperan penting dalam mengantarkan anaknya untuk menjalani petualangannya sendiri.

Sebagai salah satu karakter yang disukai para fans, kembalinya Will ini memang sebuah kejutan. Bahkan, Orlando Bloom sendiri mengaku tidak menyangka bakal kembali tampil di PotC setelah terakhir kali muncul di film ketiga, At World's End (2007), sepuluh tahun silam.

Menurut Bloom, terlibat dalam tiga film pertama PotC (2003-2007) adalah pengalaman yang luar biasa. Oleh karena itu, mantan suami Miranda Kerr tersebut mengaku langsung excited begitu sang produser, Jerry Bruckheimer, mengajaknya untuk bergabung kembali.

Di lain pihak, berita gembira kembalinya Bloom juga disertai dengan rumor yang membuat para fans was-was. Kabarnya, bakal ada satu karakter utama yang tamat riwayatnya di PotC 5 (Oh, oh.. Siapa dia?). Apakah itu Jack Sparrow? *cry*

Ronning, selaku sutradara, juga mengaku sedih harus mengakhiri nasib salah satu karakter yang dicintai oleh para fans. Namun, hal itu memang harus dilakukan karena menjadi bagian penting dari sisi emosional yang berusaha mereka angkat.

Terkait Jack Sparrow, latar belakangnya memang bakal dikupas di PotC 5 ini. Dari trailer-nya, kita bisa melihat masa muda dari bajak laut urakan tersebut. Termasuk, hubungannya dengan Captain Salazar. Ada masalah apa sebenarnya di antara mereka?

Seperti yang disebut di subjudulnya, Salazar's Revenge, PotC 5 memang menampilkan Captain Armando Salazar (Javier Bardem) sebagai tokoh antagonis utama. Dikisahkan, bajak laut yang mukanya nyeremin banget itu memiliki dendam kesumat terhadap Jack Sparrow. Dia bakal memburu Jack hingga ke neraka sekalipun. Apakah kali ini Salazar bisa menuntaskan dendamnya?

FYI, di skenario awal, sebenarnya yang diplot sebagai musuh utama Jack Sparrow adalah Captain Brand, yang sejatinya akan diperankan oleh Christoph Waltz. Namun, karena sibuk dengan proyek film lain, Waltz akhirnya tidak jadi bergabung dengan PotC 5.

Sebagai pengganti, pihak produser kemudian memilih Javier Bardem. Uniknya, baik Waltz maupun Bardem pernah sama-sama berperan sebagai musuh James Bond-nya Daniel Craig, yaitu di Skyfall (2012) dan Spectre (2015). Untuk menyesuaikan dengan Bardem yang keturunan Latin, karakter Captain Brand yang semula bule pun harus berubah menjadi Captain Salazar.

Penampakan Captain Salazar yang cukup mengerikan sempat membuat banyak pihak khawatir PotC 5 bakal membuat anak-anak takut ketika menontonnya. Sutradara Ronning dan Sandberg pun mengakui hal itu.

Namun, mereka akhirnya tetap mengambil keputusan untuk menampilkan sosok Salazar yang menyeramkan. Duo sutradara tersebut memang harus memaksimalkan potensi dari karakter antagonis yang untuk pertama kalinya muncul di PotC 5 ini.

Terkait anak-anak yang bakal takut, Ronning dan Sandberg menyarankan agar para orang tua mendampingi mereka saat menonton di bioskop. Selain itu, anak-anak harus diberi penjelasan bahwa Captain Salazar ada di universe yang berbeda dengan kita. Jadi, meski sosoknya mengerikan, kita tidak akan pernah bertemu dengannya di dunia ini.

Selain menampilkan sisi horror Captain Salazar, PotC 5 juga bakal menyoroti love story antara Henry Turner (Brenton Thwaites) dan Carina Smyth (Kaya Scodelario). Bisa dibilang, mereka adalah versi baru dari Will Turner (Orlando Bloom) dan Elizabeth Swann (Keira Knightley), yang notabene adalah bonyoknya Henry.

Bedanya, pasangan Henry dan Carina ini bakal terasa lebih modern. Tidak kuno seperti Will dan Elizabeth. Menurut sutradara Ronning, dua muda-mudi tersebut memang sengaja ditampilkan lebih progresif dan kuat dibandingkan pendahulu mereka.

Ditambah lagi, karakter Carina, yang merupakan astronom sekaligus horologist (pakar waktu), digambarkan sangat spesial. Dia adalah sosok paling pintar di antara semua tokoh dalam franchise PotC. Sifatnya keras dan tidak takut berhadapan dengan siapa saja, termasuk para pria. 

Sepertinya, Carina yang diperankan oleh si cantik Kaya Scodelario memang sengaja diorbitkan sebagai jagoan cewek baru di PotC. Dalam beberapa tahun terakhir, Disney sangat getol mengangkat tokoh-tokoh wanita sebagai andalan baru di film-film mereka. Dan, film kelima PotC ini, kayaknya, juga tidak luput dari trend "girl power" ala Disney tersebut.

Di lain pihak, saat konferensi pers, Johnny Depp mengaku senang bisa kembali memerankan Jack Sparrow setelah menghilang enam tahun. Menurutnya, Jack adalah tokoh yang mewakili sense kebebasan. Hanya saat memerankan bajak laut gendeng tersebutlah Depp bisa bebas berekspresi tanpa dikekang oleh konsekuensi apapun.

Jack Sparrow memang sosok yang kontroversial. Dia nggak pernah belajar dari masa lalu. Sejak dulu, karakternya nggak pernah berubah. Jack adalah gambaran tokoh yang tak punya konsekuensi. 

Namun, di balik segala kontroversinya tersebut, para penonton menyukainya. Oleh karena itu, bersama dengan Captain Hector Barbossa (Geoffrey Rush) dan Joshamee Gibbs (Kevin McNally), Jack Sparrow adalah karakter yang selalu muncul dalam semua film PotC.

Saat konferensi pers, Johnny Depp juga sempat mengungkap hal yang menarik. Sebelum ini, dia sudah pernah bermain bareng Javier Bardem di Before Night Falls (2000). Di film tersebut, ada adegan saat keduanya berciuman.

Lucunya, Depp ternyata juga pernah melakukan adegan kissing dengan Penelope Cruz, yang kini menjadi istri Bardem di dunia nyata. Ciuman tersebut mereka lakukan saat Penelope memerankan Angelica di film keempat PotC: On Stranger Tides (2011).

Oh, ya. Di film kelima ini, PotC juga meneruskan tradisi menampilkan seorang penyanyi rock gaek sebagai cameo. Di film sebelumnya, ada gitaris The Rolling Stones, Keith Richards, yang memerankan bokap Jack Sparrow. Kali ini, ada Paul McCartney dari The Beatles. Namun, masih belum terungkap dia berperan sebagai siapa.

Btw, berbeda dengan film-film sebelumnya, Salazar's Revenge ini menjadi film PotC pertama yang syutingnya tidak dilakukan di Karibia. Disney lebih memilih lokasi pengambilan gambar di Australia, negara asal Brenton Thwaites.

Karena PotC ini adalah film kolosal, maka lokasi syuting di Aussie pun selalu dipenuhi oleh ribuan orang. Sutradara Ronning dan Sandberg, bahkan, menyebutnya sebagai parade sirkus raksasa.

Bila dibandingkan dengan film mereka sebelumnya, Kon Tiki (2012), PotC memang sangat besar. Bisa dibilang, ini adalah film blockbuster pertama yang mereka garap. Oleh karena itu, Ronning mengaku rasanya seperti mimpi.

Ketika ditanya tentang sekuel, alias film keenam, Sandberg menyatakan mungkin saja terjadi. Tapi, semua itu tergantung dari kesuksesan PotC 5. Yang pasti, jika Disney ingin melanjutkan kerja sama, dia dan Ronning selalu siap.

Setelah tayang secara terbatas di CinemaCon, Caesars Palace, Las Vegas pada 28 Maret 2017 dan menggelar world premiere di Shanghai Disney Resort pada 11 Mei 2017, reaksi para penonton cukup positif. Respon dari para kritikus masih belum diketahui karena PotC: Dead Men Tell No Tales baru akan dirilis secara global pada 26 Mei 2017.

***

Pirates of the Caribbean: Dead Men Tell No Tales (Salazar's Revenge)

Sutradara: Joachim Rønning, Espen Sandberg
Produser: Jerry Bruckheimer
Penulis Skenario: Jeff Nathanson
Pengarang Cerita: Jeff Nathanson, Terry Rossio
Berdasarkan: Pirates of the Caribbean by Walt Disney dan Characters by Ted Elliott, Terry Rossio, Stuart Beattie, Jay Wolpert
Pemain: Johnny Depp, Javier Bardem, Brenton Thwaites, Kaya Scodelario, Kevin McNally, Geoffrey Rush
Musik: Geoff Zanelli
Sinematografi: Paul Cameron
Penyunting: Roger Barton, Leigh Folsom Boyd
Produksi: Walt Disney Pictures, Jerry Bruckheimer Films
Distributor: Walt Disney Studios Motion Pictures
Durasi: 129 menit
Budget: USD 230 juta
Rilis: 11 Mei 2017 (Shanghai), 24 Mei 2017 (Indonesia), 26 Mei 2017 (Amerika Serikat)

Rating (hingga 23 Mei 2017)
IMDb: 8,5/10
Rotten Tomatoes: 35%
Metacritic: 47/100


Preview Film: One Last Heist (2017)


The Hatton Garden Vault di London pernah menyandang status sebagai tempat penyimpanan barang mewah paling aman di seantero Inggris. Namun, pada bulan April 2015, reputasi fasilitas yang terletak di bawah tanah tersebut langsung runtuh setelah sekawanan pencuri berhasil membobol dan menggondol berbagai macam perhiasan, seperti berlian, mutiara dan zamrud.

Dengan nilai total barang curian mencapai GBP 200 juta, insiden tersebut tercatat sebagai salah satu pencurian terbesar sepanjang sejarah Inggris. Dan, yang lebih memalukan, terutama bagi The Hatton Garden Vault, aksi ala film The Italian Job tersebut dilakukan oleh sekelompok pria lanjut usia, alias kakek-kakek jompo!

Kisah kriminal unik itulah yang coba diangkat oleh sutradara Ronnie Thompson menjadi sebuah film berjudul The Hatton Garden Job. Di Indonesia, film berdurasi 93 menit tersebut mulai tayang di bioskop-bioskop Cinemaxx Theatre dan CGV Cinemas pada hari Jumat (19/5) yang lalu dengan judul One Last Heist.

Alur cerita film yang sekilas mirip dengan Ocean's Eleven (2001) dan The Italian Job (2003) itu tidak berbeda jauh jika dibandingkan dengan kejadian nyatanya. Seorang pencuri misterius, yang dikenal sebagai XXX (Matthew Goode), ditawari peluang untuk membobol Hatton Garden Vault sebelum dia pensiun dari dunia kelam tersebut. Untuk melakukan aksi terakhirnya, XXX kemudian merekrut kawan-kawannya, sesama pencuri yang sudah berpengalaman. Selain harus mengelabui para polisi, mereka juga dihadapkan pada ancaman dari kelompok mafia Hungaria.

Bagi yang suka film-film bertema heist, alias pencurian, tidak ada salahnya menonton The Hatton Garden Job. Yang membuat kurang menarik, mungkin, karena pemain-pemainnya tidak terkenal. Seandainya yang membintangi adalah George Clooney atau Brad Pitt, pasti bakal banyak yang tertarik menontonnya.

***

One Last Heist

Sutradara: Ronnie Thompson
Produser: Ben Jacques
Penulis Skenario: Ray Bogdanovich, Dean Lines, Ronnie Thompson
Pemain: Matthew Goode, Joely Richardson, Stephen Moyer, Clive Russell
Musik: Paul Arnold, Andrew Barabas
Sinematografi: Arthur Mulhern
Penyunting: Emma Gaffney
Produksi: Fiction Films
Distributor: IEG (Indonesia)
Durasi: 93 menit
Rilis: 14 April 2017 (Inggris), 19 Mei 2017 (Indonesia)

Rating (hingga 21 Mei 2017)
IMDb: 7,9/10
Rotten Tomatoes: 27%


Preview Film: The Disappointments Room (2016)


Rumah tua, di daerah terpencil, dan sebuah ruangan misterius yang ternyata ada penunggunya. Formula tersebut seakan tak lekang dimakan waktu dan masih sering digunakan oleh film-film horror. Termasuk, The Disappointments Room, yang baru tayang di bioskop-bioskop Cinema 21 mulai hari Jumat (19/5) kemarin.

Film yang sudah dirilis di Amerika Serikat pada 9 September 2016 yang lalu ini dibesut oleh sutradara yang cukup terkenal di Hollywood, yaitu D. J. Caruso. Karya-karyanya antara lain: Taking Lives (2004), yang mempertemukan Angelina Jolie dan Ethan Hawke, Disturbia (2007) dan Eagle Eye (2008)-nya Shia LaBeouf, serta xXx: Return of Xander Cage (2017)-nya Vin Diesel yang baru tayang bulan Januari yang lalu.

Yang menarik, di samping D. J. Caruso, ada nama besar lain di belakang layar The Disappointments Room, yaitu Wentworth Miller, yang bertindak sebagai penulis naskah. Iya, ini Wentworth Miller-nya serial Prison Break (2005-2009) yang legendaris itu. Yang membuat banyak cewek patah hati setelah mengaku sebagai gay pada bulan Agustus 2013 yang lalu.

Kisah The Disapointments Room diawali oleh keluarga kecil Dana (Kate Beckinsale), David (Mel Raido), dan putra semata wayang mereka yang berusia 5 tahun, Lucas (Duncan Joiner), yang pindah ke sebuah rumah di pedesaan terpencil untuk menghilangkan trauma masa lalu. Putri bungsu mereka baru saja meninggal.

Tak disangka, rumah tua yang sebenarnya terlihat indah itu ternyata menyimpan sebuah kamar rahasia yang terletak di loteng. Dana, yang kondisi kejiwaannya sedang tertekan karena kehilangan putrinya, menjadi penasaran dan mulai curiga ada yang tidak beres dengan tempat tinggal barunya.

Setelah sekian lama mencari, Dana akhirnya menemukan kunci dari ruang rahasia tersebut. Dan, benar saja. Setelah dibuka, ternyata kamar misterius itu menyimpan kengerian yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya!

Jika dilihat dari plot ceritanya, The Disappointments Room sebenarnya berusaha menggabungkan kisah horror dengan psychological thriller. Kate Beckinsale, yang selama ini kita kenal sebagai vampire sexy dalam franchise Underworld, harus memerankan seorang MILF yang kondisi mentalnya labil, sambil melacak keberadaan "penunggu" kamar rahasia yang menurutnya gaib tersebut.

Sayangnya, setelah dirilis di Amerika Serikat tahun lalu, sesuai dengan judulnya, film berdurasi 92 menit ini dianggap mengecewakan oleh para kritikus. Sejumlah situs review juga memberi rating yang sangat negatif.

Nuansa teror yang disajikan oleh The Disappointments Room dinilai kurang mencekam. Bahkan, nyaris tidak terasa. Adegannya juga terlalu banyak berputar-putar di dalam rumah, sehingga terkesan membosankan. Selain itu, kondisi kejiwaan Dana yang diperankan oleh Kate Beckinsale juga tidak dikupas secara lebih mendetail. Aktingnya datar-datar saja.

***

The Disappointments Room

Sutradara: D. J. Caruso
Produser: Geyer Kosinski, Vincent Newman, Tucker Tooley
Penulis Skenario: Wentworth Miller
Pemain: Kate Beckinsale, Mel Raido, Gerald McRaney, Lucas Till
Musik: Brian Tyler
Sinematografi: Rogier Stoffers
Penyunting: Vince Filippone
Produksi: Demarest, Los Angeles Media Fund, Media Talent Group, Relativity Studios
Distributor: Rogue Pictures
Durasi: 92 menit
Rilis: 9 September 2016 (Amerika Serikat), 19 Mei 2017 (Indonesia)

Rating (hingga 20 Mei 2017)
IMDb: 3,9/10
Rotten Tomatoes: 0%
Metacritic: 31/100
CinemaScore: D

Preview Film: Before I Fall (2017)


Setelah dirilis pertama kali, tepat saat Valentine's Day, pada 14 Februari 2010, novel Before I Fall karya Lauren Oliver langsung mendapat respon positif dari para kritikus. Bahkan, sejumlah situs review buku menominasikannya menjadi salah satu Best Young Adult Paranormal/Fantasy Novel tahun 2010.

Kesuksesan Before I Fall membuat Fox 2000 Pictures tertarik dan kemudian membeli hak untuk memfilmkannya pada 15 Juli 2010. Maria Maggenti lalu mengadaptasi kisah tersebut menjadi sebuah skenario, yang lantas masuk dalam Black List tahun 2011, yaitu kumpulan naskah-naskah terbaik yang belum sempat difilmkan.

Meski sempat tersendat beberapa tahun, proses produksi Before I Fall akhirnya dimulai pada Oktober 2015 oleh Awesomeness Films dan Jon Shestack Productions. Yang ditunjuk sebagai sutradara adalah Ry Russo-Young, sineas wanita berusia 35 tahun, yang sebelumnya kerap menghasilkan film-film independen semacam You Won't Miss Me (2009) dan Nobody Walks (2012).

Kisah Before I Fall, yang mulai tayang di bioskop-bioskop Cinema 21 pada hari Kamis (18/5), berfokus pada kehidupan seorang cewek ababil berusia 17 tahun, Samantha Kingston (Zoey Deutch), yang bisa dibilang sangat sempurna. Dia memiliki segalanya: kaya raya, pacar ganteng, dan tiga sahabat yang setia.

Sam juga sangat populer di sekolahnya. Kecantikannya membuat banyak cowok memujanya. Terbukti, saat Cupid's Day, yang jatuh pada 12 Februari, dia banyak kiriman bunga mawar. Berdasarkan tradisi di Amerika, jumlah bunga yang didapat saat Cupid's Day memang menunjukkan tingkat popularitas seorang cewek di sekolah.

Namun, tak ada gading yang tak retak. Seperti halnya cewek-cewek populer lainnya, Sam juga punya kebiasaan buruk. Bersama tiga sobatnya, Lindsay (Halston Sage), Ally (Cynthy Wu) dan Elody (Medalion Rahimi), dia sering nge-bully cewek-cewek kuper di sekolahnya, terutama Juliet Sykes (Elena Kampouris), yang tidak mendapat setangkai bunga pun saat Cupid's Day.

Bahkan, bully-an Sam and the gang tidak hanya berhenti di sekolah. Malamnya, saat menghadiri sebuah pesta di rumah seorang cowok ganteng, Kent McFuller (Logan Miller), mereka kembali mengintimidasi dan menghina Juliet habis-habisan, hingga akhirnya gadis introvert itu pulang dengan berderai air mata.

Akan tetapi, seperti sebuah karma, kejahatan yang dilakukan oleh Sam dkk langsung mendapat balasan. Sepulang dari pesta, mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Sam pun tewas di tempat kejadian.

Seharusnya, ini menjadi akhir dari kisah Sam. Namun, ternyata, semesta berkehendak lain. Sebuah keajaiban terjadi. Saat membuka mata, Sam justru terbangun di pagi hari tanggal 12 Februari. Cewek cantik tersebut diberi kesempatan untuk mengulang hari terakhirnya, saat Cupid's Day, sebelum akhirnya kembali tewas karena kecelakaan pada malam harinya. Hal aneh itu berlangsung terus-menerus. Berulang-ulang..

Sam pun kemudian mulai menyadari kesalahan-kesalahan yang dia perbuat selama hidupnya. Termasuk, salah satunya, saat nge-bully Juliet, si gadis malang. Dia berusaha untuk berbuat baik di satu hari sisa hidupnya. Dengan tujuan untuk mengubah takdir. Mampukah akhirnya Sam menghindar dari kematian yang memang sudah digariskan untuknya?

Sebelum Before I Fall, tema kehidupan berulang sebenarnya sudah sering diangkat di berbagai film. Yang paling terkenal adalah Groundhog Day (1993) yang dibintangi oleh Bill Murray. Lalu, juga ada The Butterfly Effect (2004)-nya Ashton Kutcher, Source Code (2011)-nya Jake G, Predestination (2014)-nya Ethan Hawk, hingga Edge of Tomorrow (2014)-nya Tom Cruise.

Benang merah dari film-film tersebut adalah sang tokoh utama kembali ke masa lalu setelah mengalami kematian. Mereka juga berusaha untuk mengubah masa depan. Berulang-ulang. Seperti sebuah siklus.

Bedanya, Before I Fall ber-genre young adult, sehingga banyak mengulas permasalahan para remaja, mulai dari pacaran, persahabatan, hingga keluarga. Bisa dibilang, Before I Fall ini adalah perpaduan antara Groundhog Day dengan If I Stay (2014)-nya Chloe Grace Moretz yang banyak menguras air mata itu.

Seperti versi novelnya, setelah tayang di Sundance Film Festival pada 21 Januari 2017 dan dirilis di Amerika Serikat pada 3 Maret 2017 yang lalu, Before I Fall juga mendapat respon cukup positif dari para kritikus. Film berbujet USD 5 juta ini dinilai memberi perspektif baru untuk genre young adult.

Meski banyak adegan sama yang diulang-ulang, tidak akan membuat penonton cepat bosan. Jalan ceritanya juga sangat mudah dipahami. Ditambah dengan akting bintang baru Zoey Deutch yang mendapat banyak pujian, membuat Before I Fall semakin menarik untuk ditonton.

Pesan yang ingin disampaikan oleh film berdurasi 99 menit ini juga sangat dalam dan sarat makna, yaitu bagaimana kita menghargai kehidupan dan mengisinya dengan kasih sayang bersama orang-orang di sekitar. Seandainya diberi kesempatan untuk mengulang satu hari lagi sebelum maut menjemput, apa yang bakal kita lakukan?

***

Before I Fall

Sutradara: Ry Russo-Young
Produser: Matthew Kaplan, Brian Robbins, Jonathan Shestack
Penulis Skenario: Maria Maggenti
Berdasarkan: Before I Fall by Lauren Oliver
Pemain: Zoey Deutch, Halston Sage, Logan Miller, Kian Lawley, Jennifer Beals, Diego Boneta, Elena Kampouris
Musik: Adam Taylor
Sinematografi: Michael Fimognari
Penyunting: Joe Landauer
Produksi: Awesomeness Films, Jon Shestack Productions
Distributor: Open Road Films
Durasi: 99 menit
Budget: USD 5 juta
Rilis: 21 Januari 2017 (Sundance), 3 Maret (Amerika Serikat), 18 Mei 2017 (Indonesia)

Rating (hingga 19 Mei 2017)
IMDb: 6,4/10
Rotten Tomatoes: 66%
Metacritic: 58/100
CinemaScore: B


Preview Film: The Devil's Dolls (2016)


Boneka seram masih menjadi salah satu objek favorit dalam film-film horror. Mulai dari Child's Play (1988) yang mengorbitkan Chucky sebagai salah satu legenda creepy puppet, hingga Annabelle (2014), dan The Doll (2016), yang menjadi film boneka horror versi Indonesia.

Hari Rabu (17/5) ini, layar bioskop Cinemaxx dan CGV Cinemas kembali dihiasi oleh film horror yang mengusung boneka mengerikan dengan judul The Devil's Dolls. Sutradaranya adalah Padraig Reynolds, yang selama ini memang dikenal sebagai spesialis film-film horror.

Sesuai dengan judulnya, The Devil's Dolls mengisahkan tentang seorang detektif bernama Matt Williams (Christopher Wiehl) yang harus menyelamatkan putrinya dari kutukan boneka setan, worry doll. Konon, mereka yang memiliki boneka laknat tersebut bakal terjerat oleh kuasa gelap untuk melakukan kejahatan yang mengerikan.

Awalnya, boneka tersebut dimanfaatkan oleh seorang pembunuh berantai untuk melakukan serangkaian pembunuhan brutal. Dia mendapatkan ide mistik tersebut dari tradisi Guatemala kuno, di mana para orang tua biasanya menyuruh anak-anak mereka untuk menyelesaikan masalah dengan membuat worry doll bikinan sendiri sebelum tidur.

Namun, setelah pembunuh berantai tersebut diburu oleh warga dan berhasil ditembak mati, kutukan jahat justru mulai melanda seluruh kota dan mengakibatkan terjadinya sejumlah pembantaian baru. Sang detektif pun harus mengerahkan segala daya upaya untuk menghentikan kuasa gelap worry doll, yang mana juga merasuki putrinya.

Saat dirilis pertama kali dalam bentuk home video di Inggris pada 27 Juni 2016, film horror berdurasi 85 menit ini memang berjudul Worry Dolls. Tetapi, setelah didistribusikan secara terbatas oleh IFC Films di Amerika Serikat pada 16 Desember 2016, judulnya diubah menjadi The Devil's Dolls. Mungkin, supaya lebih menjual.

Sayangnya, perubahan judul itu ternyata tidak banyak membantu. Sejumlah kritikus memberi review negatif untuk The Devil's Dolls. Bahkan, di situs IMDb, rating-nya hanya 4,2/10. Akting dan visual efeknya dianggap mengecewakan.

***

The Devil's Dolls

Sutradara: Padraig Reynolds
Produser: Padraig Reynolds, Greg Haggart, Danny Kolker and Christopher Wiehl
Penulis Skenario: Danny Kolker, Christopher Wiehl
Pemain: Christopher Wiehl, Kym Jackson
Musik: Holly Amber Church
Sinematografi: Adam Sampson
Penyunting: Ed Marx
Distributor: StudioCanal UK (Inggris), IFC Films (Amerika Serikat)
Durasi: 85 menit
Rilis: 27 Juni 2016 (Inggris), 16 September 2016 (Amerika Serikat), 17 Mei 2017 (Indonesia)

Rating (hingga 18 Mei 2017)
IMDb: 4,2/10